The Light

defocused image of lights
Photo by Miguel u00c1. Padriu00f1u00e1n on Pexels.com

Walking through the path
O my mom, can you get me the moon?
I don’t know the math

Moonlight came shining
O my friend, can’t you see?
Those roads are glowing

Blinding light of the sun
O my eyes, can’t you just turn around?
It’s a perfect day to run

The perfect ray reflected by the dust
O my mind, can you understand it alone?
Hence using your hand is a must

Iklan

Time

A photon of light blasting
through empty space between stars
whose distance is always mind blogging
thousands of years until it comes down to earth
yes, eventually it will come
in no time

Do you think that your time is
still faraway?
No, the time will come
in no time

Image: Photon: the quantisation of light by Ivory Soda

Bigger Than Thyself

35779555860_2d382a7f0d_b

Sometimes, being a human isn’t an easy thing to do
Human have much higher freedom than animals
Having freedom means that we can do anything
Anything. Be it a good  one or a bad one to ourselves

But being a human means that
We should not do anything as we please
We should consider other people
We should think about its consequences to other beings

Or in a simple word:
If you’re really a human being,
Can you do everything
For a ’cause that’s Bigger Than Thyself?

Jakarta, 16th July 2018

(photo: ALONE @ Fire Wave by Prayitno https://www.flickr.com/photos/prayitnophotography/35779555860/)

Kebaikan

Ada lima jenis kata yang digunakan oleh Al-Qur’an untuk “kebaikan”, seluruhnya diartikan ke bahasa Indonesia sebagai “baik”:

  1. معروف  (ma’ruf), ini yang sering didengar sebagai “Amar Ma’ruf Nahi Munkar”. Ma’ruf adalah kebaikan yang diketahui oleh semua orang sebagai baik. Tidak harus Muslim, kebaikan universal. Misalnya kejujuran. Sebaliknya, munkar juga keburukan yang universal dipandang buruk.
  2. خير (khair), yaitu kebaikan yang belum tentu diketahui bahwa itu baik. Misalnya sabar. Kita sendiri mungkin tidak merasakan kebaikan dari kesabaran itu, kesabaran dalam menghadapi sesuatu yang buruk.
  3. حسن (hasan, atau dalam bentuk lain husna, hasanah), artinya adalah kebaikan yang dipandang baik oleh penerima kebaikan tersebut. Tidak disebut baik jika yang menerima tidak merasakan hal itu. Misalnya ucapan/perkataan. Bisa saja kita merasa mengatakan hal yang baik, namun penerima merasa itu buruk. (wa quulu linnaasi husna)
  4.  عمل الصالح (amal shalih), yaitu kebaikan berupa amal ibadah yang dicontohkan dan diperintahkan.
  5. برّ (birr), yaitu kebaikan yang buktinya setelah pengamalannya. Misalnya haji. Haji yang baik disebut mabrur. Seseorang yang hajinya baik / mabrur dibuktikan bukan pada saat orang tersebut melaksanakan ibadah haji. Namun pada saat kembali ke tanah air.

Nah, terkait perbuatan baik kepada orang tua, ada dua jenis yang dipakai, yaitu hasan/husna dan birr. Artinya? dengan petunjuk di atas tentu bisa diartikan sendiri 😀

Berdasarkan ilmu dari tausyiah ustmif @miftahrakhmat malam ini di AS93

Wa maa taufiiqi illa billah, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniib

Musik

Senarai nada itu mengalir, dari server nun jauh di sana. Lewati lautan, lewati waktu. Getarkan hati, walau lewati speaker kecil di laptop ini.

Salah satu musical piece favoritku, Canon in D, dikarang berabad yang lalu, zaman Baroque. Mengalun via Spotify App di laptopku. Next. Dengar aransemen Jazznya. Membuka YouTube. Search “Canon in D”. Kembali seabrek video muncul.

Menurutku, Youtube menang jauh untuk variasi lagu, karena banyaknya video yang dibuat amatir, diupload ke sana. Tapi tentunya akses via Spotify itu legal untuk lagu-lagu official, apalagi mencari-cari lagu zaman SMA. Tak lagi perlu kukumpulkan lagu-lagu, membajak sana-sini. Dapat kudengar lagu-lagu, legal, tinggal satu search dan klik.

Ah, what a time to be alive. Tapi tetap saja kurindu dengarkan musik langsung, live. Bersama orang yang dicinta, menikmati nada. Bunyi indah yang diciptakan Tuhan di dunia ini, melalui tangan-tangan pemusik dan getaran alat-alatnya. Ah, kapan lagi ya?

Positive Words

Al-Baqarah 2:83
Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil, “Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Dan bertuturkatalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah shalat dan tunaikanlah zakat.” Tetapi kemudian kamu berpaling (mengingkari), kecuali sebagian kecil dari kamu, dan kamu (masih menjadi) pembangkang. (QS Al-Baqarah 2:83)

Tadi pagi saya datang ke Pengajian Ahad. Seperti biasa, agak telat. Sedang diputar video ini: https://www.youtube.com/watch?v=Hzgzim5m7oU. Dikaitkan dengan ayat yang di atas. Ketika Al-Qur’an menyebut idz ketika bercerita tentang umat terdahulu, maka sebetulnya itu juga berlaku ke umat zaman sekarang.

Words can change the world. Maka berkatalah yang baik, screenshot_1, kepada manusia. Di tengah kata-kata cercaan, kata-kata bohong, hoax seperti saat ini, bagaimana kita bisa berkata yang baik? Setiap tokoh yang baik punya caranya sendiri. Gus Dur terkenal dengan perkataannya “Gitu saja kok repot?”. Untungnya, Pak Presiden kita saat ini, Pak Jokowi, perkataannya lumayan adem, dengan caranya sendiri. Istriku sedang menggemari Gus Mus, salah satunya karena ademnya kata-katanya. “Yuk, nanti waktu mudik lebaran menyempatkan ke Gus Mus”, katanya. Tapi ia masih harus jawab pertanyaanku: “Hayo, rumah Gus Mus di mana?”.

Kata-kata. Yaap itulah pelarianku saat ini. Kucari kata bermakna, kata yang baik dan indah. Mudah meresap dan mengena. Tuk atasi kata lain yang penuh marabahaya. Membuat hati gundah gulana. Tak tenang, merana. Kucari kata itu, yang kerap menggelitik kepala. Membuatku termenung, mencari, menggali makna  di sana.

Wa maa taufiiqi illa billah, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniib..

Perpetual Guilt


If I’m in the office
I wish I were home
With the children
If I’m home
With the children
I know I should be
In the office
I always should be
Wherever
I’m not!

Dikutip dari https://www.huffingtonpost.com/dr-natasha-josefowitz/too-much-to-do-too-little_b_8191652.html. Mari kita tempatkan diri kita di mana kita berada. Work-life balance.

italian

Mari kita makan dulu. Menikmati makanan itali di dekat sini, sambil menunggu. Nikmatnya ketenangan malam. Perut kenyang, beristirahat dari pekerjaan. Pikirkan masa depan, tanpa berandai. Kendalikan asa, syukuri anugerah yang ada.

Tentu mudah dikata, susah dilaksana, katanya. Kiranya tak sesulit itu, hanya setitik iman, ditambah sejumput kepasrahan. Tentu perlu latihan. Dan itu perlu konsistensi.