Musik

Senarai nada itu mengalir, dari server nun jauh di sana. Lewati lautan, lewati waktu. Getarkan hati, walau lewati speaker kecil di laptop ini.

Salah satu musical piece favoritku, Canon in D, dikarang berabad yang lalu, zaman Baroque. Mengalun via Spotify App di laptopku. Next. Dengar aransemen Jazznya. Membuka YouTube. Search “Canon in D”. Kembali seabrek video muncul.

Menurutku, Youtube menang jauh untuk variasi lagu, karena banyaknya video yang dibuat amatir, diupload ke sana. Tapi tentunya akses via Spotify itu legal untuk lagu-lagu official, apalagi mencari-cari lagu zaman SMA. Tak lagi perlu kukumpulkan lagu-lagu, membajak sana-sini. Dapat kudengar lagu-lagu, legal, tinggal satu search dan klik.

Ah, what a time to be alive. Tapi tetap saja kurindu dengarkan musik langsung, live. Bersama orang yang dicinta, menikmati nada. Bunyi indah yang diciptakan Tuhan di dunia ini, melalui tangan-tangan pemusik dan getaran alat-alatnya. Ah, kapan lagi ya?

Iklan

Positive Words

Al-Baqarah 2:83
Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil, “Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Dan bertuturkatalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah shalat dan tunaikanlah zakat.” Tetapi kemudian kamu berpaling (mengingkari), kecuali sebagian kecil dari kamu, dan kamu (masih menjadi) pembangkang. (QS Al-Baqarah 2:83)

Tadi pagi saya datang ke Pengajian Ahad. Seperti biasa, agak telat. Sedang diputar video ini: https://www.youtube.com/watch?v=Hzgzim5m7oU. Dikaitkan dengan ayat yang di atas. Ketika Al-Qur’an menyebut idz ketika bercerita tentang umat terdahulu, maka sebetulnya itu juga berlaku ke umat zaman sekarang.

Words can change the world. Maka berkatalah yang baik, screenshot_1, kepada manusia. Di tengah kata-kata cercaan, kata-kata bohong, hoax seperti saat ini, bagaimana kita bisa berkata yang baik? Setiap tokoh yang baik punya caranya sendiri. Gus Dur terkenal dengan perkataannya “Gitu saja kok repot?”. Untungnya, Pak Presiden kita saat ini, Pak Jokowi, perkataannya lumayan adem, dengan caranya sendiri. Istriku sedang menggemari Gus Mus, salah satunya karena ademnya kata-katanya. “Yuk, nanti waktu mudik lebaran menyempatkan ke Gus Mus”, katanya. Tapi ia masih harus jawab pertanyaanku: “Hayo, rumah Gus Mus di mana?”.

Kata-kata. Yaap itulah pelarianku saat ini. Kucari kata bermakna, kata yang baik dan indah. Mudah meresap dan mengena. Tuk atasi kata lain yang penuh marabahaya. Membuat hati gundah gulana. Tak tenang, merana. Kucari kata itu, yang kerap menggelitik kepala. Membuatku termenung, mencari, menggali makna  di sana.

Wa maa taufiiqi illa billah, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniib..

Perpetual Guilt


If I’m in the office
I wish I were home
With the children
If I’m home
With the children
I know I should be
In the office
I always should be
Wherever
I’m not!

Dikutip dari https://www.huffingtonpost.com/dr-natasha-josefowitz/too-much-to-do-too-little_b_8191652.html. Mari kita tempatkan diri kita di mana kita berada. Work-life balance.

italian

Mari kita makan dulu. Menikmati makanan itali di dekat sini, sambil menunggu. Nikmatnya ketenangan malam. Perut kenyang, beristirahat dari pekerjaan. Pikirkan masa depan, tanpa berandai. Kendalikan asa, syukuri anugerah yang ada.

Tentu mudah dikata, susah dilaksana, katanya. Kiranya tak sesulit itu, hanya setitik iman, ditambah sejumput kepasrahan. Tentu perlu latihan. Dan itu perlu konsistensi.

Awalnya agama adalah makrifat Allah.
Kesempurnaan makrifat Allah adalah membenarkan-Nya.
Kesempurnaan membenarkan-Nya adalah tauhid kepada-Nya.

Barangsiapa melekatkan suatu sifat kepada-Nya,
berarti dia telah menyertakan sesuatu kepada-Nya.
Barangsiapa menyertakan sesuatu dengan-Nya,
berarti dia telah menduakan-Nya.
Barangsiapa menduakan-Nya,
berarti dia telah memilah-milah-Nya.
Barangsiapa memilah-milah-Nya,
berarti dia sungguh tak mengenal-Nya.
Barangsiapa tidak mengenal-Nya,
maka dia akan melakukan penunjukan kepada-Nya.
Barangsiapa melakukan penunjukan kepada-Nya,
maka dia telah membatasi-Nya.
barangsiapa membatasi-Nya,
maka dia telah menganggap-Nya berbilang.

~ Imam Ali Bin Abi Thalib ~
(dikutip dari buku “Tanyalah Aku Sebelum Kau Kehilangan Aku”)

Sirnalah dalam Seruan

“Paduka”, kata Daud, “karena Kau tidak perlu kami,
kenapa Kau cipta dua dunia ini?”

Sang Hakikat menjawab: “Wahai tawanan waktu…

Dulu Aku perbendaharaan rahsia
Kebaikan dan kedermawanan,
Kurindu perbendaharaan ini dikenali,
Maka kucipta cermin…

Mukanya yang cemerlang, hati,
Punggungnya yang gelap, dunia,
Punggungnya kan memesonamu
Jika tak pernah kaulihat mukanya

Pernahkah ada yang membuat cermin
Dari lumpur dan jerami itu,
Sebilah cermin pun kan tersingkap…

Ingatlah Tuhan sebanyak-banyaknya
Hingga kau terlupakan.
Biarkan penyeru dan Yang Diseru
Musnah dalam Seruan.

Puisi ini dikutip dari buku “Love Like Rumi”, karya Haidar Bagir yang diterjemahkan dan diterbitkan di Malaysia oleh NuBook

Ateis dan Bumi-Datar

Beberapa waktu yang lalu, gagasan bumi-datar kembali mengemuka. Kelemahan yang paling utamanya, banyak yang sudah membahasnya di Youtube dan di tempat lain, adalah tidak holistiknya model tersebut menjawab hal-hal yang sudah dijawab dengan model bumi bulat. Memang model bumi datar saat ini bisa seolah-olah menjawab mengenai siang-malam, perbedaan zona waktu, dsb. Tapi banyak hal-hal lain yang tidak dapat dijawab dengan konsisten, seperti letak venus, kesamaan perubahan sudut matahari di langit pada siang hari di semua tempat, dsb.

Nah, aku membaca buku The Divine Reality: God, Islam & The Mirage Of Atheism, sebuah buku karangan seorang mualaf, Hamza Andreas Tzortzis. Banyak mengkritik Ateisme. Aku setuju dengan buku tersebut, Ateis itu seperti gagasan bumi-datar tadi: untuk hal-hal tertentu, dapat terjawab. Namun, hal-hal yang dapat dijawab dengan baik jika kita menjelaskan adanya “Tuhan”, tidak semuanya dapat dijawab dengan baik oleh Ateisme.

Pendukung bumi-datar, susah menjawab pertanyaan “jika benar model flat earth tersebut, maka bagaimana …..?” (isi titik-titik dengan konsep yang sudah established di model bumi bulat), jika satu-per-satu ditanyakan sampai habis. Aku melihat itu juga terjadi di ateisme. Misalnya bermula dari pembahasan dari mana kita, asal-usul manusia. Tentu kalau naturalisme, bisa menjawab dengan teori evolusi. Nah jika benar teori evolusi, maka bagaimanakah seleksi alam terjadi? Mutasi? dan seterusnya. Misalnya kita anggap big-bang itu benar awal mula alam semesta, dan tidak ada tuhan; katanya big bang terjadi spontan, dan itu adalah keniscayaan hukum alam. Nah kenapa ada hukum alam seperti itu? Bagaimana hukum alam ini diterapkan di alam, padahal kalau tidak ada “tuhan”, maka tidak ada yang mendahului big-bang (“sebelum” big-bang, nggak ada ruang-waktu lho)

 

Wa maa taufiqi illa bilLah
Alaihi tawakkaltu wa iilaihi uniib