Origin

Awal tahun ini aku membeli buku Novel Origin karya Dan Brown. Kali ini salah satu “rahasia” yang berusaha ditutupi pembunuhnya ternyata adalah terobosan teori abiogenesis. Bagaimana kehidupan bermula dari benda mati. Dipecahkan dengan simulasi komputer terhadap eksperimen Miller-Urey (lihat laman wikipedia terkait Abiogenesis) selama jutaan tahun (simulasi yang pastinya sangat berat itu pada buku ini bisa dijalankan Komputer Quantum yang bekerja tandem dengan superkomputer konvensional).

Berdasarkan simulasi tersebut, katanya didapatkan kondisi bahwa eksperimen Miller-Urey kalau disimulasikan terus pada akhirnya akan menjadi kondisi saat ini, termasuk adanya manusia. Sehingga hasil simulasi tersebut dalam konteks ini adalah membuktikan bahwa proses abiogenesis benar-benar terjadi.

Di buku itu disampaikan bahwa tokoh utama yang dibunuh itu terkenal sebagai seorang ateis. Dengan hasil simulasi tersebut, dia secara tidak langsung mengatakan bahwa semua makhluk hidup, termasuk manusia terjadi karena hukum alam saja.

Terlepas dari kesimpulan hasil simulasi yang masih bisa dipertanyakan (yang juga merupakan fiksi, sampai sekarang belum ada komputer yang bisa mensimulasi serumit itu selama itu) sebetulnya kita bisa berfikir lebih jauh, hukum alam itu tidak sederhana. Ilmu pengetahuan sekarang mempelajari hukum alam juga tidak pernah 100%. Tapi marilah kita berfikir. Jika kehidupan, termasuk manusia merupakan keniscayaan dari hukum alam, siapa yang membuat hukum alam? Mengapa walaupun rumit — sampai manusia untuk memudahkan membaginya menjadi sub keilmuan seperti fisika, kimia, biologi — tapi saling koheren dan pada akhirnya kita (manusia) ada?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al-Baqarah:

وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعُ عَلِيمُُ{115}

Artinya :”Dan kepunyaan Allah-lah Timur dan Barat, maka kemanapun kamu menghadap maka disitulah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui”. (QS.al-Baqarah: 115)

Iklan

Ideologi

Dari KBBI:

ide·o·lo·gi /idéologi/ n

1 kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas pendapat (kejadian) yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup: dalam pertemuan itu penatar menjelaskan dasar — negara;

2 cara berpikir seseorang atau suatu golongan: hal itu menjadi makanan empuk bagi — asing yang ingin menginfiltrasi kita;

paham, teori, dan tujuan yang merupakan satu program sosial politik: — komunis menjadi pegangan bagi negara-negara yang selama ini disebut Blok Timur;

— politik 

1 sistem kepercayaan yang menerangkan dan membenarkan suatu tataan politik yang ada atau yang dicita-citakan dan memberikan strategi berupa prosedur, rancangan, instruksi, serta program untuk mencapainya;

himpunan nilai, ide, norma, kepercayaan, dan keyakinan yang dimiliki seseorang atau sekelompok orang yang menjadi dasar dalam menentukan sikap terhadap kejadian dan problem politik yang dihadapinya dan yang menentukan tingkah laku politik;

Load Testing (1)

Rasanya sudah lama aku tidak melakukan load testing. Terakhir juga yang melakukannya tim kantor, aku tidak langsung terlibat mengerjakannya. Nah di kerjaan sekarang, ada bagian harus melakukan load testing.

Tantangannya, tidak tersedia server khusus untuk load generator, dan perlu untuk melakukan pengujian dengan konkurensi besar (lebih dari 1000 user concurrent). Harapannya bisa sampai 3000 atau bahkan lebih lagi.

Tool yang sebelumnya dipakai di pekerjaan itu adalah JMeter. Ubek-ubek (baca: googling) sana-sini, kesimpulannya sulit untuk menaikkan concurrency dari JMeter, kecuali dengan membuat cluster. Masing-masing 1000 user sudah mentok, itu juga dengan processor dan memory yang memadai.

Setelah cari sana sini dan mencoba-coba, akhirnya dapat dua yang pas: Locust dan Gatling. Locust websitenya di http://locust.io, dan Gatling di (bisa ditebak) http://gatling.io. Dua-duanya dibangun tidak lagi dengan konsep thread tetapi dengan async, sehingga dapat mencapai konkurensi yang sangat tinggi dengan resource minimal. (Menarik juga membahas tentang async ini, karena dengan async ini bisa dicapai performance yang tinggi, kapan-kapan deh).

Locust:

  • User behavior dibuat dengan Python (bahasa pemrograman favoritku sekarang)
  • Karena aku menggunakan CPython, kalau satu proses akan terkena GIL. Jadi kalau konkurensi satu proses sudah maksimal (tergantung user behavior yang diimplementasikan), perlu memanfaatkan fitur clustering slave-masternya. Di satu komputer juga bisa
  • User interfacenya melalui web browser (nice), dan terupdate secara realtime
  • Di laptopku bisa mencapai 3000 concurrent user dengan mudah, tapi kalau dicoba sampai 6000, kelihatannya mentok di sekitar 5000+

Gatling:

  • Java-based, user behavior dibuat dengan Scala
  • Di laptopku, bisa mencapai tingkat konkurensi lebih tinggi dari locust (bisa 10.000 dengan cukup mudah)
  • Kenapa bisa sebesar itu? Kelihatannya karena Gatling tidak menampilkan hasil secara real time. User interfacenya melalui CLI, setelah selesai reportnya keluar dalam bentuk html

Berikutnya akan membahas contoh satu-satu Locust dan Gatling..

Pengurangan RTH

Kemarin aku pulang ke Bandung. Tengah malam sampai. Kulihat patung baru di pertigaan Supratman – Katamso sudah dibuka sengnya. Yaap. Lagi-lagi pengurangan RTH.

Secara teknis/administratif, taman di Kota Bandung disebut sebagai RTH (Ruang Terbuka Hijau). Halaman gedung juga. Ada perizinan khusus kalau kita membangun rumah, membedakan antara tanah terbuka, tertutup, dsb. Ada syarat persentase tanah yang harus terbuka.

Tapi sejak RK menjabat menjadi walikota, dengan sedih aku melihat perubahan RTH, dari Ruang Terbuka Hijau, menjadi Ruang Terbuka Beton.

Terus kenapa? Kan bagus, jadi ada ruang untuk warga kota. Banyak ruang yang dapat dinikmati.

Well, saya setuju kalau itu jumlahnya secukupnya. Sekarang juga belum cukup sebenarnya, tapi dengan ruang yang ada, perlu juga mengejar ruang yang betul-betul terbuka untuk penyerapan air. Air tanah Kota Bandung mulai kritis, saya pernah baca. Banjir dikirimkan ke Bandung Selatan. Iya sih, Jokowi mencanangkan adanya terowongan banjir untuk mengatasi banjir. Tapi apakah tidak bisa kita cegah?

Apa yang bisa kulakukan ya?

Trotoar Zaman Now

Trotoar zaman now
Tak perhatikan tomorrow

Seenak saja kau bilang
Trotoar macam itu kuno
Trotoar macam itu jelek
Bukan trotoar zaman now

Ternyata kau pernah bilang
Berikrar, akan mengganti
Semua trotoar yang
Bukan trotoar zaman now

Trotoar yang tersedia
Hanya pada jalan yang butuh
Tidak di setiap inci jalan
Bukan trotoar zaman now

Trotoar tanpa batu-batu
Bulet-bulet jendol jendol
Yang (bisa) menggelinding
Bukan trotoar zaman now

Trotoar yang nggak licin
Suka hujan-hujanan
Nggak nolak orang pake swallow
Bukan trotoar zaman now

Trotoar yang punya celah
Tuk hantarkan bulir-bulir air
Hujan turun menyerap ke bumi
Bukan trotoar zaman now

Yaap

Aku kuat, bertulang besi
Kualirkan air ke bawah diriku
Kinclong indah licin kulitku
Kutututup tanah agar tak malu
Belepotan coklat tak aturan
Kuberikan tempat duduk
Di semua tempat, tak pandang bulu
Ramai, sepi, tak apa
Toh jadi ada tempat untuk
Pasangan berdua, sepi lho
Kuberlapis batu dari gegunungan
Atau semen bergaris kotak bercat
Dibangun tuk dicontoh
Aku trotoar zaman now

(Jakarta, 18 Desember 2017)

Google Doodle: Kid’s Coding

Wow. Google Doodle hari ini adalah terkait 50 tahun sejak bahasa pemrograman pertama untuk anak-anak dibuat:
Screenshot-2017-12-4 Google Doodle
Screenshot-2017-12-4 Google Doodle (2)

Seperti sratch dan lain-lain yang untuk anak kecil, programming di sini menggunakan bahasa pemrograman yang lebih visual dengan bentuk seperti jigsaw puzzle. Bukan Python, hehehe..

Kalau ada yang belum sempat lihat, bisa lihat di link ini:
https://www.google.com/doodles/celebrating-50-years-of-kids-coding

Maulid Kelabu (1)

Rembulan mengintip di tengah angkasa, dikelilingi mega
Bergulung-gulung di seputar langit, sisa
Hempasan angin dari siklon, cempaka dan dahlia
Hantarkan badai di pulau jawa

Siklon tropis, katanya namanya itu
Pulau jawa ini tropis, namun tak pernah kubertemu
Siklon tropis, biasanya jauh dari khatulistiwa
Pemanasan global, itu penyebabnya

Bolehkan kubertanya, biasanya kusambut mula
Bulan ini dengan suka cita dan gembira
Maulid, bulan lahirnya Rasul tercinta
Cahaya di alam semesta

Kini, pantaskah aku bergembira begitu?
Padahal, pulau jawa sedang kelabu
Bencana masih belum usai menyapa
Gunung agung pun masih menyala