sepucuk sajak

menatap Muhammad buhulan rindu
tiada lidah yang tak kelu
tiada zarrah yang tak lebur
tiada alam yang tak lenyap
tiada mentari yang tak malu
tiada bintang-bintang yang tak bergetar-getar menahan segenap kelipnya
merintih akulah geletar cahaya Muhammad
aaakulahh geletar cahaya Muhammad
aaakulahh geletar cahaya Muhammad
dan tiada pula awan yang tak berarak-arak menanti pertemuan dengan Mu,
duhai Muhammad …

Sajak Maulid Nabi, dimitri mahayana, 1994

(dikutip dari http://filsafatislam.net)

Aku menemukan lagi sajak ini, terselip di tengah jagat Internet.. Sajak yang beberapa tahun lalu menginspirasiku, sajak yang menghilang dari diriku setelahnya…sampai saat ini.

2 Tanggapan ke “sepucuk sajak”


  1. 1 raddtuww tebbu 4 Januari 2008 pukul 9:21

    sajak Bapak.. huhuhuhuy.. :D

  2. 2 febrian 30 Januari 2008 pukul 19:29

    eh iya kan li, bapak dimitri itu ayahmu kan?


Tinggalkan Balasan




a

Foto Flickr

terminal haji

asrama haji bekasi

piano baru

More Photos