menatap Muhammad buhulan rindu
tiada lidah yang tak kelu
tiada zarrah yang tak lebur
tiada alam yang tak lenyap
tiada mentari yang tak malu
tiada bintang-bintang yang tak bergetar-getar menahan segenap kelipnya
merintih akulah geletar cahaya Muhammad
aaakulahh geletar cahaya Muhammad
aaakulahh geletar cahaya Muhammad
dan tiada pula awan yang tak berarak-arak menanti pertemuan dengan Mu,
duhai Muhammad …Sajak Maulid Nabi, dimitri mahayana, 1994
(dikutip dari http://filsafatislam.net)
Aku menemukan lagi sajak ini, terselip di tengah jagat Internet.. Sajak yang beberapa tahun lalu menginspirasiku, sajak yang menghilang dari diriku setelahnya…sampai saat ini.



sajak Bapak.. huhuhuhuy..
eh iya kan li, bapak dimitri itu ayahmu kan?