Hmm kenapa ya kepikir tentang neuron di jaringan syaraf tiruan/JST (artificial neural network / ANN)? Bukan kepikir mengenai konsep neuronnya, tapi mengenai ‘how to make it’ alias codingannya.. Coba deh.. hmm baca-baca dikit dari Wikipedia: Artificial Neuron tentang neuron.
Arsip untuk Januari, 2007
jaringan syaraf tiruan: neuron, sekilas
Diterbitkan 31 Januari 2007 informatika , iseng , programming 2 Commentsjalan-jalan diinternet, nemu Linux Distribution Chooser. Intinya sih, dia milihin linux yang cocok berdasarkan pertanyaan-pertanyaan yang kita jawab. Pertanyaannya berkisar antara kemampuan teknis sampai ke hardware.
Jadi, hasilnya, linux yang cocok buatku:
1. Fedora, dengan kriteria yang tidak memenuhi: tidak mempunyai text-based installer. Oke. ini memang distro linux yang kupake sekarang. Di laptopku aku pake Fedora 6. Bagus juga. Wirelessnya bisa langsung jalan setelah aku ekstrak firmware dari driver windowsnya. Cuma kalo di rumah kok duplicate terus paketnya ya? (sekarang aku tahu: karena sinyalnya low :p)
2. Mandriva. Dulu aku pernah make distro ini, waktu namanya masih Mandrake. Distro ini turunan dari Redhat Linux, yang versi komunitasnya sekarang menjadi Fedora. Haha, sama saja ya, sama-sama Redhat family..
3. OpenSUSE. Alah. kok SUSE ?? males ah…
Tadi pagi (sabtu, 27 januari 2007) aku males lari pagi di sabuga. Kualihkan saja olahragaku jadi jalan ke punclut, lewat ciumbuleuit. Naik angkot st.hall-ciumbuleuit sampai mentok. Terus jalan naik ke atas kira-kira 40 menit. Terus makan. Hmm enak juga ayam bakarnya plus gudeg tadi malam yang tersisa yang kubawa..
Yang mau kubahas disini bukan jalan-jalannya, tapi mengenai kerusakan lingkungan punclut. Dari tempatku makan terlihat pemandangan seperti ini (klik untuk memperbesar)
Bukit yang terlihat di latar belakang adalah bukit dago, daerah dekat terminal dago. Sedangkan yang berada di latar depan adalah bukit yang masih termasuk wilayah punclut, tapi sudah terlihat gundul dan ada jalan. Uuuuh benar-benar merusak pemandangan!
Awalnya kukira itu adalah jalan dago-lembang / punclut-lembang, karena sebelumnya ada pemberitaan di media massa mengenai jalan punclut-lembang yang banyak ditentang. Ternyata, bukan seperti yang kukira.
Setelah makan, aku iseng tanya ke orang, ‘pak, kalau dari sini bisa ke dago nggak?’. Aku males lewat jalan yang sama ke ciumbuleuit, toh aku mau ke kosan teman di bilangan cisitu. Ditunjuklah sebuah jalan yang melewati rumah penduduk, waw, asyik juga, turun melalui rumah penduduk yang terletak di lereng bukit, terus naik lagi di bukit satunya. Sampailah kita di bukit yang terlihat gundul tadi.
Ternyata, itu bukanlah jalan menuju lembang. Eh, mungkin saja jalannya ada yang menuju lembang. Tapi bukan hanya itu. Bukit tersebut tengah dibuka untuk menjadi lahan perumahan baru. Perumahan. Ya. Di Bandung Utara. Tempat resapan air, tempat konservasi air, tempat cadangan air Kota Bandung.
Jadilah perjalanan pulangku lebih capai daripada perjalanan pergiku. Pertama capek fisik karena naik turun bukit (satu kali lagi turun naik bukit, ketika aku turun bukit tersebut dan menaiki bukit dago, ke simpang dago). Yang kedua capek di dalam, hati terasa diiris-iris melihat kerusakan alam yang terjadi.
Ya Allah, Ampunilah dosa-dosaku yang meruntuhkan penjagaan,
Ya Allah, Ampunilah dosa-dosaku yang mendatangkan bencana,
Ya Allah, Ampunilah dosa-dosaku yang merusak nikmat kurnia,
Ya Allah, Ampunilah dosa-dosaku yang menyebabkan doa tertahan,
Ya Allah, Ampunilah dosa-dosaku yang memutuskan pengharapan,
Ya Allah, Ampunilah dosa-dosaku yang akan menurunkan bala,
Ya Allah, Ampunilah segala dosa yang telah aku lakukan,
Dan segala kesalahan yang telah aku kerjakan
aduh.. sudah lama nggak nulis di sini, blog ini ditinggalkan begitu saja. Gimana sih? katanya mau buat sebuah blog? kok nggak diisi?
So, aku isi lagi.
Kemarin pulang naik mobil, nyetir. Hujan cukup deras. Seperti biasa, beberapa ruas jalan di bandung kena banjir ‘cileuncang’. Jalan tergenang air, di beberapa tempat agak tinggi. Kalau diperhatikan, sebenarnya volume hujan tidak terlalu besar, yang menjadi penyebab terjadinya banjir ‘cileuncang’ itu karena air tidak bisa masuk ke selokan. Malah di beberapa tempat, air keluar dari selokan memenuhi jalan. Yang pertama karena saluran menuju selokannya tertutup sampah (atau malah tidak ada saluran menuju selokan?) dan jalan di kota bandung ‘kan banyak yang menurun, jadi air cenderung mengikuti jalan. Yang kedua karena selokannya mampet karena sampah atau karena putus/buntu/mentok (biasanya di tempat-tempat yang jalannya masih setengah-jadi).
nantinya ada foto di sini, kemarin nggak bawa kamera



Komentar Terakhir